Example 728x250
Pendidikan

Unair Bantu Guru PAUD dan TK AL Amin Sidoarjo dalam Deteksi Dini Speech Delay melalui Aplikasi Digital

258
×

Unair Bantu Guru PAUD dan TK AL Amin Sidoarjo dalam Deteksi Dini Speech Delay melalui Aplikasi Digital

Sebarkan artikel ini

Pewarta.TV, Sidoarjo, 1 Agustus 2025 — Guru-guru PAUD dan TK Al Amin Wage, Taman, Sidoarjo semangat mengikuti kegiatan kegiatan yang bertajuk Pemberdayaan Guru PAUD dan TK dalam Deteksi Dini Speech Delay untuk Perkembangan Bicara Anak.

Menurut dr. Damba Bestari, Sp.KJ, narasumber utama dalam kegiatan tersebut, speech delay atau keterlambatan bicara pada anak merupakan masalah yang makin sering dijumpai. “Banyak orang tua baru menyadari ketika anak sudah masuk usia sekolah, padahal deteksi dini bisa dilakukan sejak usia 1-2 tahun,” ujar dokter spesialis kejiwaan  siang itu yang berbicara lugas namun hangat.

Speech delay adalah kondisi ketika anak tidak mencapai tonggak perkembangan bicara sesuai usianya. Misalnya, pada usia dua tahun, anak idealnya sudah bisa mengucapkan dua kata atau menggabungkan dua kata seperti “mau makan” atau “ambil bola.” Bila tidak, ini bisa menjadi sinyal awal adanya keterlambatan.

Perkembangan bicara berhubungan erat dengan kemampuan belajar, sosialisasi, dan bahkan emosi anak di masa depan. “Kita tidak sedang bicara soal anak yang hanya ‘malu-malu’, tetapi mungkin ada gangguan di baliknya, mulai dari masalah pendengaran hingga spektrum autisme,” tambah dr. Damba.

Guru TK dan PAUD Adalah guru yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan anak-anak. Mereka tahu mana anak yang hanya pendiam, mana yang tampaknya ada hambatan komunikasi.

Itulah mengapa kegiatan ini menjadi sangat penting. “Kami ingin membekali para guru dengan kemampuan dasar untuk mengenali tanda-tanda keterlambatan bicara pada anak di lingkungan sekolah,” kata dr. Damba.

Selain itu, dr. Damba, Sp. K.J. menegaskan, bahwa speech delay bukan masalah sepele. “Jika terlambat ditangani, ini bisa berujung pada masalah perilaku, keterlambatan akademik, bahkan gangguan emosi,” jelasnya.

Bersama beberapa dosen dan mahasiswa pendamping, kegiatan ini menjadi sinergi antara akademisi dan praktisi. Tak hanya memberi materi, mereka juga mengajak guru langsung praktik melalui simulasi kasus melalui aplikasi digital.

“Biasanya kami cuma ajak anak menyanyi atau bercerita, sekarang kami tahu bahwa itu bisa jadi momen penting untuk menstimulasi dan mengamati,” ujar Bu Nur, salah satu guru TK Al Amin dengan wajah antusias.

Selain itu, para peserta juga diajak berdiskusi kasus nyata yang mereka hadapi di kelas. Seorang guru bahkan membagikan kisah tentang muridnya. Hal tersebut ditanggapi langsung oleh narasumber dan diskusi berjalan gayeng. Ke depan, tim pelaksana berharap kegiatan serupa bisa direplikasi di PAUD dan TK lainnya di Sidoarjo bahkan Jawa Timur. (Damba)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *