Pewarta.TV, Sidoarjo, 1 Agustus 2025 — Masalah tumbuh kembang anak seperti keterlambatan bicara (speech delay) pada anak makin sering ditemukan di masyarakat, termasuk di lingkungan desa. Namun sayangnya, banyak orang tua maupun petugas lapangan belum memahami bahwa ini bukan sekadar masalah “anak belum waktunya bicara”.
“Deteksi dini itu kunci. Anak usia 2 tahun seharusnya sudah mulai mengucap dua kata, seperti ‘mau susu’ atau ‘ambil bola’. Kalau belum, itu bukan hanya terlambat, tapi bisa jadi gejala awal speech delay,” ujar dr. Damba Bestari, Sp.KJ, salah satu narasumber kegiatan ini.
Dokter spesialis kejiwaan ini menjelaskan bahwa masalah speech delay berkaitan erat dengan tumbuh kembang otak dan interaksi sosial anak. Jika tidak segera ditangani, anak bisa mengalami hambatan dalam belajar, bahkan berisiko terisolasi secara sosial.
Tak hanya dokter atau terapis, ternyata kader Posyandu memiliki peran strategis. “Mereka adalah garda depan di desa. Mereka yang paling sering bertemu ibu dan anak. Mereka bisa jadi detektor awal speech delay,” kata Henni Endah Mahanani, S.Kom., M.Kom., dosen sekaligus inovator teknologi yang turut hadir sebagai narasumber.
Henni mengenalkan sebuah aplikasi interaktif bernama Speech Blubs, yang bisa membantu anak-anak menstimulasi kemampuan bicara melalui video edukatif, permainan interaktif, dan fitur pengulangan suara. Aplikasi ini mudah digunakan oleh kader maupun orang tua.
“Jadi bukan sekadar memberikan saran, tapi kader bisa langsung membantu mengarahkan orang tua bagaimana cara menstimulasi anak di rumah,” ujarnya.
Kegiatan ini bertajuk Pemberdayaan Kader Posyandu dalam Deteksi Dini Speech Delay pada Anak-Anak Menggunakan Aplikasi Interaktif Speech Blubs. Ketua tim UPN mengabdi ini yaitu Henni dan beranggotankan dr. Damba, turut hadir Drs. H. Zawawi, SE, MM, M.Pd., dr. Andini Dyah Sitawati, Sp.KJ, dan beberapa mahasiswa sebagai tim pendamping.
Pelatihan berlangsung interaktif. Para kader posytandu desa Wage dibekali teori dasar perkembangan bahasa anak, diajari cara mengenali tanda-tanda keterlambatan bicara, serta diberi pelatihan langsung menggunakan aplikasi Speech Blubs.
“Awalnya saya kira aplikasi seperti itu hanya cocok untuk anak-anak muda saja. Tapi ternyata, sangat membantu kami sebagai kader posyandu. Anak-anak bisa menirukan suara hewan, kata-kata sederhana, bahkan ekspresi wajah. Ini seperti bermain, tapi sambil belajar,” ujar Bu Sriwati, kader Posyandu Desa Wage.
Dr. Damba, spesialis kejiwaan, menegaskan bahwa speech delay bukan masalah sepele. “Jika terlambat ditangani, ini bisa berujung pada masalah perilaku, keterlambatan akademik, bahkan gangguan emosi,” jelasnya.
Itulah sebabnya, peran kader sangat strategis. Dengan pelatihan ini, mereka tidak hanya menjadi pencatat berat badan atau pengukur tinggi anak, tetapi juga pendamping tumbuh kembang secara menyeluruh.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pintu gerbang awal dari perubahan besar di desa. Ke depan, para kader akan mengadakan sesi edukasi rutin bersama ibu-ibu balita, sekaligus memantau penggunaan aplikasi Speech Blubs di rumah. Bahkan, desa dapat merencanakan membuat Posyandu Tumbuh Kembang khusus yang fokus pada aspek perkembangan bicara dan perilaku anak. (Henny)












