Pewarta.TV, Ponorogo — SLB Negeri Jenangan menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung tumbuh kembang peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) melalui kegiatan pelatihan bertajuk “Pelatihan untuk Wali Murid dalam Menstimulasi Sensori Motorik Peserta Didik Berkebutuhan Khusus.” Kegiatan ini diikuti oleh 10 wali murid dan berlangsung selama 10 pertemuan penuh edukasi dan praktik langsung.

Pelatihan ini menjadi bukti nyata sinergi antara sekolah dan keluarga dalam mendukung kesiapan belajar anak. Selama pelatihan, para wali murid dibekali pengetahuan tentang tumbuh kembang anak, jenis-jenis sistem sensori, teknik screening mandiri, hingga penerapan permainan sederhana yang efektif untuk menstimulasi sensori motorik anak di rumah.
Kepala SLB Negeri Jenangan, Dias Setiyo Prasuranto, S.Pd, selaku narasumber utama pelatihan, menyampaikan bahwa hambatan sensori motorik sangat memengaruhi kesiapan anak dalam mengikuti pembelajaran. “Pelatihan ini bertujuan agar orang tua memiliki peran nyata dalam mendukung perkembangan anak melalui aktivitas sederhana yang dapat dilakukan di rumah untuk menstimulasi fungsi sensori sesuai dengan hambatan yang dialami anak secara konsisten,” ujarnya..
Salah satu peserta, Bapak Raka, mengaku sangat terbantu dengan pelatihan ini. “Selama ini saya bingung bagaimana membantu anak saya yang tak bisa duduk diam. Lewat pelatihan ini saya jadi tahu permainan apa saja yang cocok dan ternyata bisa dilakukan hanya di rumah, tanpa harus mahal,” tuturnya.
Dalam pelatihan tersebut, dikenalkan tujuh sistem sensori utama berikut contoh aktivitas stimulasinya:
– Visual: menyusun balok warna-warni, bermain cahaya/senter.
– Auditori: tebak suara, bernyanyi mengikuti irama.
– Taktil: bermain pasir, plastisin, tekstur kain.
– Vestibular: melompat, meniti garis, ayunan.
– Proprioseptif: mendorong benda berat, pelukan dalam.
– Gustatori: mengenal rasa makanan.
– Olfaktori: membedakan bau rempah atau sabun.
Tidak hanya memberikan teori, pelatihan ini juga mendorong wali murid untuk melakukan dokumentasi dan evaluasi praktik di rumah. Dalam sesi akhir, peserta berbagi praktik baik, sekaligus membangun komunitas orang tua yang saling mendukung.
Dengan pelatihan ini, SLB Negeri Jenangan berharap dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih adaptif dan inklusif. Anak-anak dengan hambatan sensori motorik tidak lagi berjalan sendiri, melainkan didampingi oleh guru dan keluarga yang memahami serta peduli pada kebutuhan mereka.( red)












