Pewarta.TV, Magetan – Tradisi budaya Rabo Legi Kembali digelar di salah satu Situs Cagar Budaya yaitu Sendang Kamal. Kegiatan ini yang diselenggarakan oleh Paguyupan Adat Budaya (POKDARWIS) dan Tradisi Abdi Sendang Kamal sebagai bentuk pelestarian nilai budaya dan Sejarah lokal. ini Rabu Legi (14/01/2026)
Sendang Kamal bukan sekedar mata air saja, melainkan ruang Sejarah yang telah dimuliakan sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno. Pada periode tersebut, Kawasan dengan adanya sumber air kerap ditempatkan sebagai Bumi Sima, yakni wilayah Istimewa yang dilindungi dan peruntukkan bagi kepentingan spiritual serta kesejahteraan rakyat. Nilai kesakralan ini terus bertahan dan dipertahankan hingga zaman kerajaan Mataram Islam, melalui proses akulturasi budaya yang menyesuaikan dengan nilai-nilai Islam dengan tradisi lama tetapi tanpa menghilangkan maknanya.
Nugroho sebagai salah satu pelestari budaya Sendang Kamal, menuturkan bahwa keberlangsungan tradisi Rabo legi ini merupakan bukti sejarah masih hidup di tengah masyarakat era sekarang. “Sendang Kamal ini sejak dulu dimuliakan. Dari masa Mataram Kuno hingga Mataram Islam, maknanya dan adatnya terus hidup. Lewat tradisi Rabo Legi ini, saya sebagai salah satu pelestari budaya Sendang Kamal ingin warga setempat masih merawat ingatan sejarah sekaligus menjaga hubungan kita manusia dengan alam dan Sang Pencipta,” ujarnya.
Kegiatan Tradisi Rabo Legi ini memiliki beberapa rangkaian, diawali dengan Laku Lampah Mawar Kembar sebuah proses para iring-iringan jalan dengan menggunakan baju tradisional lurik tanpa alas kaki sebagai simbol yang merepresetasikan keseimbangan hidup dan keharmonisan lahir batin. Prosesi selanjutnya yakni Pasowanan Agung Prasasti Sendang Kamal yakni sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan penjaga Sendang Kamal.
Salah satu prosesi yang paling menarik yaitu Larung Saji Mawar Kembar dan Andum Asih Tirto Sakral. Proses menaburkan bunga mawar di Sendang Kamal lalu air dari Sendang Kamal dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol penyucian diri dan harapan akan keselamatan serta kesejahteraan. Bagi warga, Tirto Sakral ini bukan sekadar air, melainkan doa yang mengalir dari nilai-nilai tradisi leluhur.
Selain ritual adat, kegiatan hari ini juga dirangkai dengan acara Pra-launching Peken Rabo Legi, sebagai upaya menguatkan ekonomi budaya masyarakat sekitar. Program ini melibatkan para pelaku UMKM lokal, khususnya kelompok ibu-ibu yang tergabung dalam Pokdarwis. “ Kami, para ibu-ibu Pokdarwis, ikut berperan agar tradisi ini tidak hanya berhenti pada ritual, tapi juga berdampak pada ekonomi warga. Harapannya, budaya tetap lestari dan masyarakat juga merasakan manfaatnya,” ujar salah satu ibu kelompok Pokdarwis.
Dengan adanya Tradisi Rabo Legi, Sendang Kamal kembali ditegaskan sebagai ruang hidup budaya yang merekam perjalanan sejarah panjang masyarakat Jawa. Tradisi yang dijalankan hari ini tidak sekadar seremonial, melainkan wujud nyata perawatan warisan leluhur yang terus relevan di tengah perubahan zaman. (Putrie S.A)











