Pewarta.TV, MADIUN — Suhu pergerakan mahasiswa di Madiun kembali memanas. Mengusung semangat perlawanan lewat rentetan tagar tajam seperti #ACAB1312, #REFORMATIINDONESIA, dan #MALINGBERKEDOKGIZI, Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Madiun Raya sukses menggelar forum “Seruan Konsolidasi” pada Sabtu malam (28/2/2026). Pertemuan ini menjadi ruang konsolidasi strategis untuk merespons berbagai krisis dan kebobrokan sistemik, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Forum yang dimulai pukul 20.00 WIB ini diwarnai dengan adu argumen dan pemaparan tajam dari lima Presiden BEM yang hadir sebagai pemantik utama. Masing-masing tokoh secara spesifik menguliti isu-isu krusial yang tengah menjadi polemik di masyarakat:
* *Presiden BEM UNMER, Rahardean*, menyoroti krisis integritas aparat dan mendesak urgensi Reformasi Polri.
* *Presiden BEM UBHM, Mael*, membongkar problematika dan politisasi di balik program Makan Bergizi Gratis (MBG).
* *Presiden BEM UMMAD, Maikel*, menyoroti kejanggalan transparansi dalam sistem Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
* *Presiden BEM UNIPMA, Guntur Ega, melayangkan kritik ganda yang menyoroti kembalinya Ahmad Sahroni di DPR RI serta mempertanyakan urgensi keterlibatan Indonesia dalam *Board of Peace.
* *Presiden BEM STAINU, Faiz*, menyuarakan isu ekologis dengan menyoroti lambannya penanganan pemerintah pasca-banjir di wilayah Sumatera.
*Enam Tuntutan Utama Aliansi BEM Madiun*
Dari hasil konsolidasi gagasan tersebut, Aliansi BEM Madiun menyepakati draf pernyataan sikap yang akan dirilis resmi selambat-lambatnya satu minggu pasca-pertemuan. Terdapat enam poin tuntutan yang menjadi garis merah perjuangan aliansi:
1. *Reformasi Institusi Polri:* Menuntut pembersihan institusi Polri dari budaya brutal, impunitas, dan arogansi kekuasaan, serta mewajibkan pengutamaan prinsip HAM dalam setiap tindakan kepolisian.
2. *Audit Total Program MBG:* Mendesak audit dan evaluasi total terhadap anggaran serta distribusi MBG, menghentikan segala bentuk politisasi program, dan menuntut pencopotan Kepala BGN untuk diganti dengan figur yang linier di bidang keilmuannya.
3. *Tarik Mundur dari Board of Peace:* Mendesak pemerintah untuk segera menarik mundur Indonesia dari keterlibatan di Board of Peace.
4. *Tanggap Darurat Bencana Sumatera:* Menuntut pemerintah untuk segera menetapkan status tanggap darurat dan meminta pertanggungjawaban ekologis atas pemulihan Aceh serta Sumatera pasca-banjir.
5. *Evaluasi Transparansi KDMP:* Mengusut tuntas arogansi oknum Koperasi Desa Merah Putih dan menuntut pembukaan transparansi anggaran kepada publik.
6. *Pencopotan Ahmad Sahroni:* Mengecam keras dan menolak kembalinya Ahmad Sahroni sebagai Pimpinan Komisi III DPR RI.
Konsolidasi ini tidak hanya menghasilkan dokumen tuntutan tertulis. Aliansi BEM Madiun secara terbuka melempar peringatan keras kepada para pemangku kekuasaan jika suara mereka kembali diabaikan.
“JIKA TUNTUTAN INI DIABAIKAN, KAMI AKAN TURUN LEBIH BESAR, LEBIH SOLID, DAN LEBIH RADIKAL DALAM GERAKAN!”
Pertemuan tersebut ditutup dengan gemuruh semangat perlawanan yang menegaskan posisi mahasiswa sebagai oposisi jalanan: “Reformasi Total atau Kami Lawan! Mahasiswa tidak takut. Rakyat tidak bodoh. Keadilan harus ditegakkan. Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!”(guntur)












