Example 728x250
Peristiwa

“Marhaban Ya Melawan”: Aksi Kamisan Madiun Soroti Tragedi Tual hingga Kasus Narkoba dan Pungli di Polres Setempat

12
×

“Marhaban Ya Melawan”: Aksi Kamisan Madiun Soroti Tragedi Tual hingga Kasus Narkoba dan Pungli di Polres Setempat

Sebarkan artikel ini

Pewarta.TV, MADIUN – Kekecewaan terhadap institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali disuarakan di jalanan. Ratusan pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam solidaritas masyarakat sipil menggelar Aksi Kamisan #18 bertajuk “Marhaban Ya Melawan” di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Madiun, Kamis (26/2/2026). Mengusung dresscode serba hitam, aksi ini dimulai pukul 16.00 WIB dan diwarnai dengan pembentangan spanduk berisi kecaman keras terhadap aparat.

Pemicu utama kemarahan massa adalah tewasnya Arianto Tawakal (14), seorang anak asal Tual, Maluku, yang diduga meregang nyawa akibat dianiaya oleh anggota Brimob beberapa hari lalu.

Koordinator Aksi Kamisan, Sadam Al Azari, menegaskan bahwa aksi ini bertepatan dengan satu minggu kepergian Arianto. Ia mengutuk keras aparat yang seharusnya menjadi pelindung, justru bertindak layaknya pembunuh.

“Seorang anak yang diambil nyawanya dan dihentikan cita-citanya oleh instansi yang harusnya mengayomi. Mereka malah menjelma dan beralih tugas menjadi malaikat pencabut nyawa,” ujar Sadam dalam orasinya.

Lebih lanjut, ia menyerukan agar masyarakat berhenti menggunakan tameng kata ‘oknum’ untuk menutupi kebobrokan institusi. “Hentikan normalisasi kata oknum pada setiap kejahatan Polri. Mulai dari pungutan liar, narkoba, pelecehan, semua dikatakan oknum. Pembunuh tetap pembunuh, bukan oknum. Siapapun sekarang bisa dalam bahaya,” tegasnya.

Kritik tajam juga dilontarkan oleh Haidar, Ketua BEM UNIPMA periode 2025. Menurutnya, kematian Arianto menambah daftar panjang brutalitas aparat yang sebelumnya juga merenggut nyawa aktivis dan warga sipil, seperti kasus Afif Maulana, Gamma, dan Affan Kurniawan.

Haidar juga membongkar borok institusi kepolisian di tingkat lokal. Ia menyoroti kasus penyalahgunaan narkoba yang melibatkan anggota Polres Madiun Kota sebagai bukti bahwa kerusakan Polri sudah mengakar hingga ke jajaran bawah. “Belum lagi kasus pungli ketika masyarakat mengurus administrasi di polres setempat, itu sudah jadi rahasia umum yang membuat masyarakat takut,” paparnya.

Menyikapi wacana Reformasi Polri yang digaungkan sejak akhir Agustus lalu, Haidar menyebutnya sebagai omong kosong. “Itu hanyalah kalimat bodoh yang tidak ada substansinya sama sekali. Polri yang harusnya melindungi justru berbalik 180 derajat menjadi pedang ke masyarakat. Kami sudah tidak percaya lagi dengan Polri dan Reformasi Polri,” tandas Haidar.

Meski diwarnai orasi yang memanas, rangkaian Aksi Kamisan yang diisi dengan pembacaan puisi ini tetap berjalan kondusif. Menjelang waktu Magrib, tensi aksi mereda dan ditutup dengan kegiatan membagikan takjil serta buka puasa bersama di lokasi.

Sebagai penutup, Guntur Ega, Mahasiswa UNIPMA yang turut merapatkan barisan dalam aksi tersebut, mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai. “Reformasi Polri harus kita kawal bareng. Jangan hanya menjadi sebuah wacana, tapi harus terwujud menjadi reformasi secara total,” pungkasnya. (Gun/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *