Pewarta.TV, Tangerang – Seorang penulis tak hanya perlu menjaga raga yang sehat, tapi juga pikiran dan batin yang sehat, agar karya tulis yang dibuat tidak menyesatkan. Sebab dari tubuh yang tak sehat bisa sangat mengganggu konsentrasi menulis yang harus dikeluarkan dari pikiran yang bersih, jernih, hati yang nyaman dan batin yang bersih,suci. Tak boleh terkontaminasi oleh tekanan fisik yang tersiksa, rasa dengki yang meranggas dan ketulusan jiwa yang harus senantiasa terjaga dan segar. Karena hanya dengan begitu tulisan yang dihasilkan dapat jernih dan terang mengungkapkan ide dan gagasan yang hendak disampaikan agar dapat diserap oleh publik dengan enak dan menyenangkan seperti mengunyah buah segar dengan penuh nikmat. Bila tidak, maka pembaca pun akan melupakan, atau bahkan memuntahkannya, andai saja sudah terlanjur dikunyah beberapa bagian dari menu sajian tulisan tersebut yang dianggap tak sedap itu.
Persoalannya suka cita pembaca harap dipahami sebagai bagian dari otoritas mereka. Boleh jadi menu tulisannya memang sudah oke, tapi kondisi psikologis pembaca saat hendak menikmati sajian tulisan tersebut akan sangat menentukan, bagaimana menu tulisan itu bisa dicercap dan dinikmati dengan penuh kenikmatan dan kegembiraan.
Jadi sentuhan dari nuansa kemanusiaan menjadi sangat penting dan perlu diperhatikan, baik untuk sang penulis maupun bagi sang pembaca. Dalam konteks inilah kegemaran seorang penulis untuk terus membaca — termasuk yang tidak tertulis, tapi cuma tersirat dalam pencercapan psikologis maupun nilai-nilai kemanusiaan perlu untuk terus dipertajam dan diperuncing daya tikamannya. Sebab hanya dengan cara begitu — sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan dan kecepatan menulis — akan meluncur deras seperti di arus deras yang bergelombang kuat memberi nuansa keindahan yang menakjubkan. Oleh karena itu, hentakan yang tak terduga perlu dilakukan untuk membuat kejenuhan dapat menjadi keteperangahan yang mengagumkan. Pendek kata, irama tulisan perlu sesekali menampilkan hentakan irama rampak. Sesekali bisa juga mengalun layak musik blues hingga seakan tengah mendendangkan kidung di malam sunyi yang mampu menghantar semua orang memasuki suasana kontemplasi yang mengasyikkan.
Dalam bahasa filosofisnya, menulis itu membutuhkan kecerdasan intelektual yang disempurnakan oleh kecerdasan spiritual. Sehingga nilai alami yang membumi jelas terpaut dengan siklus alam miliki Sang Maha Pencipta yang sepenuhnya diperuntukkan bagi kemaslahatan manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling mulia.
Atas dasar itulah seorang penulis yang berkesadaran intelektual dan berkesadaran spiritual sangat yakin dan percaya bahwa menulis itu adalah pekerjaan yang patut dipujikan, karena menulis bagi seorang penulis yang berkesadaran intelektual dan berkesadaran spiritual sesungguhnya sedang melukis batu nisan miliknya sendiri yang kelak akan menjadi tempat ziarah bagi siapa saja yang ingin membacakan do’a atau sekedar nostalgia atau ingin melepas rasa kangen dengan mengunjungi pemakan Sang Penulis.
Artinya, menulis dengan semangat penuh untuk menghias keindahan batu nisan diri sendiri ini, merupakan laku spiritual yang dapat dipercaya berteguh pada sikap untuk mengedepankan etika, moral dan akhlak mulia sebagai tiang pancang tegaknya spiritualitas untuk membimbing kepongahan intelektualitas yang acap liar dan tidak terkendali. Apalagi jejak digital, tidak mungkin menguap dari atmosfer jagat raya yang akan memeberitakannya ke langit.
Paparan ini disampaikan untuk peserta Jurnalis dan calon penulis binaan Atlantika Institut Nusantars yang diselenggarakan di Tangerang pada 19 Oktober 2025.












