Pewarta.TV, Madiun – Kabupaten Madiun menjadi tuan rumah penyelenggaraan Seminar Nasional bertema peran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dalam pengentasan kemiskinan, Kamis (13/8/2026). Acara yang berlangsung di Caruban ini diselenggaran berbarengan dengan Pengukuhan Kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (DPP PAPDESI) periode 2026–2031 di bawah kepemimpinan Wargiyati.
Bupati Madiun, Hari Wuryanto menyatakan komitmen penuh Pemkab Madiun dalam mendukung keberlangsungan KDKMP dan MBG melalui fasilitasi lahan, perizinan, hingga bantuan operasional. Saat ini, pembangunan gedung KDKMP di Madiun telah selesai 100 persen di 104 desa/kelurahan, didukung berbagai bantuan armada transportasi dan sarana pendukung lainnya. Sementara untuk program MBG, operasional SPPG di Madiun telah melibatkan lebih dari 2.600 relawan untuk melayani 158.841 penerima manfaat.
Sementara Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan RI, Budiman Sujatmiko, menegaskan bahwa program MBG tidak hanya berfokus mengatasi masalah gizi buruk dan stunting, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal yang melibatkan petani, peternak, dan UMKM dengan standar kualitas bahan pangan yang ketat. Lewat momentum pengukuhan PAPDESI ini, pemerintah berharap terjadi transformasi ekonomi di tingkat desa, memindahkan pijakan masyarakat dari sektor agraris tradisional menuju era industrialisasi desa.
Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan RI, Budiman Sujatmiko, mengatakan DPP PAPDESI merupakan organisasi profesi bagi kepala desa dan perangkat desa di Indonesia.
Kepengurusan baru tersebut dipimpin Wargiyati sebagai Ketua Umum untuk masa bakti 2026–2031, sementara program pemerintah diharapkan dapat dimanfaatkan dan dilanjutkan masyarakat untuk kepentingan rakyat.
Budiman juga menyoroti pelaksanaan MBG yang selama ini mendapat kritik. Menurutnya, program tersebut memiliki tujuan mengatasi masalah gizi buruk dan menurunkan angka stunting, sekaligus membuka ruang bagi UMKM, petani, peternak, dan nelayan setempat untuk masuk dalam rantai pasok pangan.
“Untuk suplai beras, untuk MBG tidak bisa kualitas biasa. Sayur, gak bisa kualitas biasa juga, bahkan telur. Harus ada standar produk”, ungkapnya.












