Example 728x250
Daerah

Ribuan Warga Padati Kirab Boyong Nayoko Projo, Nganjuk Rayakan 146 Tahun Perpindahan Ibu Kota dengan Semangat “Hambangun Projo”

10
×

Ribuan Warga Padati Kirab Boyong Nayoko Projo, Nganjuk Rayakan 146 Tahun Perpindahan Ibu Kota dengan Semangat “Hambangun Projo”

Sebarkan artikel ini

NGANJUK, PEWARTA.TV– Suasana haru bercampur meriah menyelimuti Kabupaten Nganjuk, Sabtu (6/6/2026). Ribuan warga memadati sepanjang jalur kirab dalam peringatan Boyong Nayoko Projo dan Sedekah Bumi Hambangun Projo 2026. Agenda budaya tahunan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud penghormatan mendalam terhadap sejarah perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk yang telah berusia 146 tahun.

Prosesi kirab akbar tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Nganjuk, Dr. Drs. H. Marhaen Djumadi, bersama Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro, S.T. Rute kirab dimulai dari Alun-Alun Berbek—pusat pemerintahan lama—menuju Pendopo KRT Sosrokoesoemo di Nganjuk kota, simbolisasi perjalanan sejarah yang panjang dan penuh makna.

Kirab dibuka dengan mobil patroli Satlantas sebagai pengawal, diikuti oleh Kereta Pusaka yang menjadi simbol sakral penghormatan terhadap leluhur. Keunikan acara tahun ini terlihat dari partisipasi massal elemen masyarakat. Sebanyak 80 armada dokar ( Kereta Kuda) dan 51 becak hias turut serta dalam iring-iringan, menciptakan panorama visual yang memukau.

Rombongan Forkopimda, pimpinan DPRD, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para camat, kepala desa, hingga berbagai komunitas masyarakat mengikuti kirab dengan mengenakan busana adat dan menghiasi kendaraan dengan ornamen khas daerah. Hal ini menunjukkan kuatnya identitas lokal di tengah arus modernisasi.

Tidak hanya itu, kemeriahan semakin terasa dengan penampilan seni dan budaya dari seluruh kecamatan di Nganjuk. Tarian tradisional, kesenian rakyat, dan kreasi budaya lainnya ditampilkan secara bergantian, mencerminkan kekayaan warisan leluhur yang masih lestari hingga kini.

Peringatan Boyong Nayoko Projo mengangkat kisah sejarah penting. Pada tahun 1880, pusat pemerintahan Kabupaten Berbek resmi dipindahkan ke Nganjuk. Gagasan ini awalnya dicetuskan oleh Adipati Sosrokusumo III pada 1878. Sebelumnya, kawasan Nganjuk terdiri dari empat kadipaten terpisah: Kadipaten Berbek, Pace, Nganjuk, dan Kertosono.

Keempat wilayah ini disatukan pada 1830 di bawah Kadipaten Berbek, sebelum akhirnya ibu kota dipindahkan ke lokasi sekarang pada 1880. Peristiwa inilah yang setiap tahun dikenang melalui tradisi Boyong (pindah) Nayoko Projo (memayu hayuning praja/membuat negeri aman dan tenteram).

Selain kirab, acara juga dimeriahkan dengan tradisi Sedekah Bumi Hambangun Projo. Puncaknya adalah presentasi gunungan raksasa yang berisi hasil pertanian unggulan Nganjuk, seperti bawang merah, padi, jagung, kedelai, serta aneka sayur dan buah-buahan.

Gunungan tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas berkah panen melimpah. Saat gunungan dibagikan, ratusan warga tampak antusias berebut mendapatkan hasil bumi yang diyakini membawa berkah dan kemakmuran.

Bupati Nganjuk, Marhaen, menegaskan bahwa tema Hambangun Projo mengandung makna membangun daerah secara gotong royong. “Melalui kegiatan ini, kita memperkuat rasa kebersamaan antara pemerintah, Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan generasi muda. Ini adalah semangat Jas Merah: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah,” ujarnya.

Lebih jauh, Marhaen menghubungkan tradisi ini dengan komitmen nyata pemerintah dalam mendukung program Swasembada Pangan Nasional. Ia menekankan bahwa sektor pertanian, khususnya komoditas bawang merah dan padi, adalah tulang punggung ekonomi Nganjuk.

“Kami akan terus bersinergi dengan Kementerian Pertanian, perguruan tinggi, dan TNI untuk meningkatkan produktivitas. Harapannya, petani sejahtera, dan Nganjuk menjadi daerah yang mandiri, maju, serta gemah ripah loh jinawi,” tegas Bupati.

Dengan digelarnya Kirab Boyong Nayoko Projo dan Sedekah Bumi Hambangun Projo 2026, Pemkab Nganjuk berharap nilai-nilai sejarah, persatuan, dan semangat gotong royong dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang, sekaligus menjadi fondasi kuat bagi pembangunan daerah yang berkelanjutan.

 

(Tim Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *