Example 728x250
Serba-Serbi

Jacob Ereste : Peringatan Trisuci Waisak Nasional 2570 Mengusung Pindapata Buddhis Era Sebagai Tradisi Yang Luhur

2
×

Jacob Ereste : Peringatan Trisuci Waisak Nasional 2570 Mengusung Pindapata Buddhis Era Sebagai Tradisi Yang Luhur

Sebarkan artikel ini

Pewarta.TV, Acara puncak perayaan Trisuci Waisak Umat Buddha Indonesia di Jakarta berlangsung pada 10 Mei 2026 di kawasan Kemayoran, Jakarta dengan beragam aktivitas dan aksi sosial. Tema Pindapata BE Nasional 2570 BE/ 2026, dihadiri sekitar 70-an Bhikku serta tokoh dari berbagai agama memohon do’a yamg disampaikan oleh masing-masing perwakilan agama dan kepercayaan yang ada serta dari Pemimpin Spiritual Nusantara untuk keselamatan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Acara do’a bersama yang dilakukan secara bergilir ini dimulai dari perwakilan umat Islam, Kristen, Buddha, Katolik, Hindu dan Konghucu serta dari Pemimpin Spiritual Nusantara yang ditujukan secara khusus dan spesial untuk Bhikku Jinnadhamo Mahathera yang merintis penyebaran Agama Buddha di Sumatra dan terus mengabdikan dirinya untuk umat hingga akhir hayat di Medan, Sumatra Utara.

Do’a spesial yang dilantunkan Sri Eko Sriyanto Galgendu untuk Bhikku Jinnadhamo Mahathera diangkatt dari “Kitab MA HA IS MA YA” yang telah dia bacakan pada acara pembacaan do’a bersama 79 tokoh nasional dari berbagai elemen masyarakat dalam 20 jam non stop di Aula Antara Jakarta Pusat, pada 2 – 3 Agustus 2025 silam.

Do’a yang berjudul “Batas Waktu Pengabdian” untuk Bhikku Jinnadhamo Mahathera yang telah tiada itu bagi Sri Eko Sriyanto Galgendu tak hanya cukup untuk dikenang, tetapi keteladanannya memberi pelayanan serta perhatian pada umat sungguh sangat terpuji dan patut dijadikan contoh dari keikhlasan serta totalitas pengabdiannya.

Do’a spesial yang dibacakan kembali ini dalam bentuk pertanyaan kepada Allah…. Apakah aku diperkenankan untuk mempersembahkan do’a untuk siapapun yang aku pahami telah menaburkan benih kebaikan kepadaku ?

Demikian penggalan do’a yang terkesan ritmik mendedahkan puja dan puji kepada tokoh agama yang mengusung nilai-nilai spiritual yang tinggi, sakral, hingga esensi dari do’a itu sendiri bagi Sri Eko Sriyanto Galgendu adalah bagian dari makna pemahaman serta wujud dari mengenal Tuhan. “Meski aku tidak mengenal mengenal mereka, karena do’a memang tidak mengenal nama, sebab do’a hanya mengenal budi kebaikan bagi sesama manusia dan makhluk lainnya, kata Pemimpin Spiritual Nusantara ini yang juga acap disebut sebagai Wali Spiritual Indonesia.

Pada kesempatan ini, Sri Eko Sriyanto Galgendu berkenan memberikan ” Kitab MA HA IS MA YA” secara simbolis untuk sejumlah tokoh yang memuat 79 lantunan do’a tersebut sebagai tahapan dari lounching yang akan segera dilakukan dalam waktu dekat di Jakarta dan untuk sejumlah kota lain sebagai bagian dari sosialisasi program besar “Diplomasi Spiritual Global” untuk mendorong pemerintah dalam upaya mewujudkan Indonesia sebagai cahaya mercusuar dunia bagi bangsa-bangsa di dunia.

Serangkaian acara Trisuci Waisak yang diselenggarakan oleh Sangha Theravada Indonesia ini dibanjiri oleh 20 ribu umat Buddha yang datang dari berbagai daerah dengan tema ” Menapaki Jalan Mulia Bersumbangsih Bagi Negeri” yang diakhiri dengan santap bersama di Resto Nelayan kawasan Kemayoran bersama Dirjen Pembinaan Umat Buddha dari Kementerian Agama RI serta Muspida Jakarta Pusat. Sedangkan Menteri Agama, Prof. KH. Nazaruddin Umar sendiri hadir bersama umat yang memenuhi Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat. Kegiatan yang menjadi bagian dari Vesakha Sananda 2570 Budhis Era ini mengusung Pindapata Nasional Tahun 2026 untuk mengingatkan bila bangsa Indonesia membutuhkan lebih banyak hati yang lembut, welas asih serta bijaksana.

Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia, Bhikkhu Subhapanno Mahathera mengatakan, Pindapata merupakan tradisi luhur Buddhis yang sudah berlangsung sejak masa Buddha Gautama yang telah menjadi warisan kebijakan.

Kemayoran, 10 Mei 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *